LEMAK
Lemak
adalah garam yang terbentuk dari penyatuan asam lemak dengan alkohol organik
yang disebut gliserol atau gliserin. Lemak yang dapat mencair dalam temperatur
biasa disebut minyak, sedangkan dalam bentuk padat disebut lemak. Seperti halnya
karbohidrat, lemak tersusun atas molekul karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen
(O2) dengan jumlah atom lebih banyak, misalnya stearin (C57H10O6).
Sifat-sifat lemak antara lain mengapung pada permukaan air, tidak larut dalam
air, mencair pada suhu tertentu, dan dapat melarutkan vitamin A, D, E, dan K.
Manfaat lemak dalam tubuh adalah sebagai sumber energi, melarutkan vitamin
sehingga dapat diserap oleh usus dan dapat memperlama masa kenyang (Surbakti,
2010).
Lemak
yang di gunakan pada praktikum ini adalah lemak sapi. Uji sifat kelarutan lemak
dapat dilihat secara langsung ataupun disaring terlebih dahulu dengan
menggunakan kertas saring, setelah itu pelarut diusapkan dan dilihat ada atau
tidaknya residu yang tertinggal. Uji kelarutan dapat digunakan untuk mengetahui
sifat kepolaran pelarut. Lemak atau lipid tidak dapat larut dalam pelarut yang
bersifat polar, namun lemak dapat larut dalam pelarut non-polar (Sumardjo, 2009).
Berdasarkan
percobaan sifat kelarutan lemak yang telah dilakukan, lemak sapi tidak dapat
larut dalam pelarut aquades, sehingga terbentuk 2 fasa. Menurut pendapat Priadi
(2009), hampir semua jenis lipid, yaitu lemak dan minyak tidak larut dalam
pelarut polar seperti air (aquaedes), namun dapat larut dalam pelarut non-polar
seperti kloroform, eter, dan benzena. Lipid bersifat nonpolar oleh karena itu
lipid hanya dapat larut dalam pelarut nonpolar.
Pada
percobaan lemak ini di tambahkan larutan NaOH 10 %. Dan terbentuk 2 fasa, fasa
atas bening bergelembung fasa bawah
cokelat muda. Hasil pengamatan yang diperoleh dapat dikatakan berhasil karena
teori kelarutan lemak menyatakan bahwa pada umumnya lemak dan minyak tidak
larut dalam air atau senyawa yang bersifat polar, tetapi sedikit larut dalam
alkohol (semipolar) dan larut sempurna dalam pelarut organik atau senyawa yang
bersifat non polar seperti eter, kloroform, aseton, benzene dan non polar
lainnya.
Pada
identifikasi dengan salting out dan pemisahan asam lemak, lemak ditambahkan
dengan eter. Larutan menjadi bening dan bau menyengat. Hasil pengamatan yang
diperoleh dapat dikatakan berhasil karena teori kelarutan lemak menyatakan
bahwa pada umumnya lemak dan minyak larut sempurna dalam pelarut organik atau
senyawa yang bersifat non polar seperti eter, kloroform, aseton, benzene dan
non polar lainnya.
Kemudian
lemak disaring pada corong pisah dengan menggunakan kertas saring, residu
dtambahkan aquades 12,5 mL. kemudian di tambah NaCl. Terbentuk gumpalan
dikarenakan NaCl merupakan bahan larutan polar. Suspensi di biarkan sampai
menggumpal, lalu di pisahkan dengan kertas saring. Larutan di tambah H2SO4
sebanyak 1 mL, terjadi fasa atas kuning dan bawah bening.
Pada
pemisahan kolesterol, filtrate dipanaskan dan di ekstraksi dengan
alcohol.filtrat menjadi padat dan berwarna kuning bening dikarenakan alcohol
adalah larutan semipolar. Kemudian disaring dengan kertas saring ditambah
beberapa tetes aquades.
Dan
pada pengamatan terakhir Uji salkowski, uji ini merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi
keberadaan kolesterol. Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu
dengan volum yang sama ditambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai
sebagai pemutus ikatan ester lipid. Apabila dalam sample tersebut terdapat
kolesterol, maka lapisan kolesterol dibagian atas menjadi berwarna hijau dan
asam sulfat terlihat berubah menjadi kuning dengan warna fluorosens hijau. Dari
hasil percobaan uji salkowski menunjukkan hasil dengan terbentuk cincin coklat
yang menunjukkan terjadinya reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat (Supardan
1989). Trigleserida yang mengandung asam lemak tak jenuh cenderung mengalami
autooksidasi. Molekul oksien dalam udara dapat bereaksi dengan asam lemak,
sehingga memutuskan ikatan gandanya menjadi ikatan tunggal. Hal ini menyebabkan
minyak mengalai ketengikan, kelas lipida yang lain adalah steroid dan terpen.
Steroid merupakan molekul kompleks yang larut didalam lemak dengan empat cincin
yang saling bergabung. Steroid yang paling banyak ialah sterol yang merupakan
steroit alkohol. Kolesterol adalah sterol utama pada jaringan hewan, kolesterol
dan senyawa turunan esternya, dengan asam lemaknya yang berantai panjang adalah
komponen penting dari plasma lipoprotein.
Priadi, Arif. 2009. Biology 2 For
Senoir High School. Yudhistira. Jakarta.
Surbakti,
S. 2010. Asupan Bahan Makanan dan Gizi bagi Atlit Renang. Jurnal Ilmu Keolahragaan. 8 (2) : 3.
Sumardjo, D., 2009. Pengatur Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata 1. Fakultas Bioksata. Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Supardan. 1989. Metabolisme Lemak. Malang: Lab. Biokimia Universitas Brawijaya.
Komentar
Posting Komentar