MAKALAH GENETIKA “SINDROM DOWN”
MAKALAH GENETIKA
“SINDROM
DOWN”
(Tugas
ini di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur mata kuliah Genetika)
Dosen
: Yani Suryani, S.Pd.,M.Si.

Mochamad Sutan (1167020048)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Illahi Rabbi atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan penulis
semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini penulis
akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penulis miliki sangat kurang.
Oleh kerena itu penulis harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Bandung, 29 April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................... 1
1.1 Latar
belakang................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan.............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................ 3
2.1 Pengertian
Sindrom Down................................................................ 3
2.2 Ciri-ciri Down Syndrome................................................................. 3
2.3 Penyebab Down
Syndrome.............................................................. 4
2.4
Pencegahan Down Syndrome........................ .................................. 7
2.5
Jenis-Jenis Terapi yang dibutuhkan Penderita Down
Sindrom....... 9
BAB III
PENUTUP............................................................................ 15
3.1 Kesimpulan.................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Down
Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling
banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20% anak dengan down syndrom
dilahirkan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun. Down
syndrom merupakan
cacat bawaan yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromosom-X. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21,
karena 3 dari 21 kromosom menggantikan yang normal 95 % kasus down syndrom disebabkan oleh
kelebihan kromosom.
Gejala yang muncul akibat down sindrom
dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal
sampai muncul tanda yang khas. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa
congenital heart disease. Kelainan ini
yang biasanya berakibat fatal karena bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada
sistem pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan
pada esofagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia).
Penyakit down syndrome ini kebanyakan di sebabkan
karena faktor keturunan atau kesalahan pada pembelahan kromosom. Selain
itu, banyak juga faktor yang menyebabkan penyakit down syndrome ini. Diantara kita mungkin tidak banyak mengenal dan
tidak memahami akan adanya penyakit ini, sehingga sering terjadi pada anak
karena ketidak tahuan kita selama ini. Down Syndrome tidak bisa
dicegah, karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah
kromosom. Namun Pencegahan
dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi
para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan.
Oleh sebab itu makalah ini penulis buat dengan
harapan agar kita selaku mahasiswa dapat mengetahui gejala-gejala dan cara
pencegahan dari down syndrome itu
sendiri. Sehingga bisa di sebarkan ke
masyarakat luas agar penderita down
syndrome tidak terus bertambah dan masyarakat pun bisa mengenali
orang yang terkena down syndrome sehingga
penderita bisa diperlakukan secara khusus.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa
itu down
syndrome ?
2. Bagaimana
ciri-ciri anak yang terkena down syndrome
?
3. Apa
penyebab terjadinya down syndrome ?
4. Bagaimana
cara pencegahan dan penyembuhan bagi penderita down syndrome ?
5. Apa
sajakah jenis-jenis terapi syndrome ?
1.3
Tujuan
Adapun
tujuan yang diutarakan dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Mengetahui
pengertian down syndrome
2. Mengetahui
ciri-ciri anak yang terkena down syndrome
3. Mengetahui
penyebab terjadinya down syndrome
4. Mengetahui
cara pencegahanan dan penyembuhanan down
syndrome
5. Mengetahui
jenis-jenis terapi syndrome
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Sindrom Down
Perubahan
jumlah dan struktur pada kromosom ikatan dengan serius pada manusia. Hal ini
terjadi ketika nondisjungsi terjadi dalam meiosis, yang berakibat aneuploid. Aneuploid
merupakan frekuensi zigot aneuploid yang cukup tinggi dapat berbahaya bagi
perkembangan embrio. Salah satu keadaan aneuploid adalah Down Sindrom, di
Amerika kelainan ini terjadi pada 700 anak yang lahir.
Menurut Dr.
John Longdon Down, kelainan ini dikenal pada tahun 1866, dengan ciri-ciri aneh
seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung datar,
menyerupai orang mongolia, maka gejala ini sering disebut dengan Mongoloid.
Pada tahun 1970 para ahli Amerika dan Eropa ini mengganti nama dari kelainan
yang terjadi pada anak dengan merujuk pada penemu pertama kali dengan istilah “Down Syndrome” dan hingga kini penyakit
ini dikenal dengan setelah itu.
Down
syndrome adalah kondisi keterbelakangan pada perkembangan fisik pada mental
anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini
dapat terbentuk diakibatkan oleh kegagalan suatu sepasang kromosom untuk saling
memisahkan diri ketika terjadi pembelahan. Down Syndorm ini disebut juga
kegagalan kelainan kromosom yang lebih dikenal dengan manifestasi klinik yang
cukup khas.
2.2 Ciri-ciri
Down Syndrome
Down syndrom ini merupakan suatu
kerusakan atau cacat fisik bawaan yang disertai keterbelakangan mental, umumnya
lidahnya tebal dan retak-retak atau terbelah, wajahnya datar ceper, mata pada
orang yang memiliki kelainan memiliki mata miring, menurut penelitian terdapat
700 kelahiran hidup atau 1 diantara 800-1000 kelahiran bayi. Di dunia ini
diperkirakan terdapat empat juta penderita penderita down syndrome di seluruh
dunia, dan terdapat 300 ribu kasus ini terjadi di Indonesia.
Down Syndrome ini terjadi merata
pada laki-laki maupun pria. Penderita Down Syndrome memiliki karakter ciri-ciri
antara lain sebagai berikut :
1. Abnormalitas
pada tengkorak
2. Abnormalitas
pada muka
3. Tubuhnya
berukuran pendek
4. Dagu
dan mulut kecil
5. Leher
berukuran pendek
6. Kaki
dan tangan biasanya bengkok
7. Mulut
biasanya selalu terbuka
8. Ujung
lidah besar
9. Hidung
lebar dan rata
10. Kedua
lubang hidung terpisah lebar
11. Jarak
antara kedua mata lebar
12. Kelopak
mata mempunyai lipatan epikantus
2.3 Penyebab
Sindrom Down
Down syndrome terjadi karena
kelainan susunan kromosom ke-21, dari 23 kromosom manusia. Pada manusia
normal, 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46.
Pada penderita down syndrome, kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga
(trisomi), sehingga totalnya menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan
tersebut mengakibatkan kegoncangan pada sistem metabolisme sel, yang akhirnya
memunculkan down syndrome. Hingga saat ini, diketahui adanya hubungan
antara usia sang ibu ketika mengandung dengan kondisi bayi, yaitu semakin tua
usia ibu, maka semakin tinggi pula risiko melahirkan anak dengan down syndrome
(Monks, Knoers, Haditono, 50-1).
Down syndrome dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor
genetik, faktor radiasi, faktor virus, faktor umur ibu dan faktor umur ayah.
Menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko
berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan down syndrome (Mangunsong,
2009). Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30% ibu yang melahirkan anak
dengan down syndrome pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi
konsepsi. Virus mengakibatkan rekombinasi genetik yang membuat DNA manusia
dikendalikan oleh virus. Risiko untuk mendapat bayi dengan down syndrome
didapatkan meningkat dengan bertambahnya usia ibu saat hamil, khususnya bagi
wanita yang hamil pada usia di atas 35 tahun. Walau bagaimanapun, wanita yang
hamil pada usia muda tidak bebas terhadap risiko mendapat bayi dengan down
syndrome (Livingstone, 2006). Usia ayah juga dapat membawa pengaruh pada anak
down syndrome. Orang tua dari anak dengan down syndrome mendapatkan bahwa 20 –
30 % kasus ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya, tetapi korelasinya tidak
setinggi dengan usia ibu (Soetjiningsih, 1995). Faktor tersebut mengakibatkan
adanya abnormalitas pada kromosom 21 yang terjadi akibat kegagalan sepasang
kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Kromosom merupakan
serat-serat khusus yang terdapat didalam setiap sel didalam badan manusia
dimana terdapat bahan-bagan genetik yang menentukan sifat-sifat seseorang.
Selain itu down syndrom disebabkan oleh hasil dari pada penyimpangan kromosom
semasa konsepsi. Ciri utama dari pada bentuk ini adalah dari segi
struktur muka dan satu atau ketidak mampuan fisik dan juga waktu hidup yang
singkat. Sebagai perbandingan, bayi normal dilahirkan dengan jumlah 46
kromosom (23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21).
Sedangkan bayi dengan penyakit down syndrom terjadi disebabkan oleh kelebihan
kromosom 21 dimana 3 kromosom 21 menjadikan jumlah kesemua kromosom ialah 47
kromosom.
Lahirnya anak
yang menderita Syndrom Down itu berhubungan erat dengan umur ibu. Tidak ada
korelasinya yang konsisten dengan umur ayah. Kemungkinan karena oosit
mengalami waktu istirahat (profase 1) yang sangat panjang yaitu sejak
pemebentukan (meosis) oosit hingga sampai ovulasi, dengan demikian membutuhkan
waktu istirahat kira-kira 12-45 tahun, selama waktu yang panjang itu oosit
mengalami nondisjunction. Biasanya kalainan ini terjadi pada anak terkhir dari
suatu keluarga besar, karena faktor seorang ibu yang melahirkan pada usia
lanjut.
Ada beberapa
pendapat mengapa terjadi nondisjunction, mungkin adanya virus akibat radiasi,
mungkin adanya pengandungan antobody tiroid yang tinggi, mungkin karena lama
sel telur tidak dibuahi di tuba fallopii.
Gambaran tentang peristiwa nondisjunction
Gambar diatas
menjelaskan bahwa: a. Kromosom homolog dapat gagal berpisah selama anafase I.
b. Kromatid gagal berpisah selama anafase meiosis II. Kedua tipe kesalahan
meiotik tersebut akan menghasilkan gamet dengan jumlah kromosom yang tidak
normal, karena seharusnya pada meiosis 1 membawa 1 pasang kromosom, tetapi ini
malah membawa 2 pasang kromosom, sehingga pada meiosis 2 terjadi pembelahan
ganda, akhirnya menjadi trisomi pada kromosom 21, dan salah satu faktornya
adalah usia.
Down Syndrom juga disebabkan oleh kurangnya
zat-zat tertentu yang menunjang perkembangan sel syaraf pada saat bayi masih di
dalam kandungan, seperti kurangnya zat iodium. Menurut data badan UNICEF,
Indonesia diperkirakan kehilangan 140 juta poin Intelligence Quotient (IQ)
setiap tahun akibat kekurangan iodium. Faktor yang sama juga telah
mengakibatkan 10 hingga 20 kasus keterbelakangan mental setiap tahunnya (Aryanto,
dalam Koran Tempo Online). Mutasi gen ini memiliki kemungkinan paling besar
terjadi pada kelahiran dimana usia ibu antara 40 sampai 50 tahun. Persentasenya
sekitar 1,5 per 1000 kelahiran.
2.4 Pencegahan
Down Sindrom
Konseling Genetik maupun amniosentesis pada kehamilan
yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka kejadian Down Sindrom.
Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan “ gene
targeting “ atau yang dikenal juga sebagai “ homologous recombination “ sebuah
gen dapat dinonaktifkan. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan
pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada
bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak
dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan
hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko
melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Down Sindrom tidak bisa
dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah
kromosom. Jumlah kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih
tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua
usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS Diagnosis dalam kandungan bisa
dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS
(mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu)
atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Pemeriksaan diagnostik
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada
beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
§
Pemeriksaan fisik penderita
§
Pemeriksaan kromosom
§
Ultrasonografi (USG)
§
Ekokardiogram (ECG)
§
Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang
paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya
penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan,
pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah.
Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan maupun informasi yang
cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai
berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya.
Walaupun secara jumlah meningkat, namun penderita down
syndrome lebih banyak yang berprestasi dan hidup lebih lama dibanding orang
dengan kehidupan yang lebih berkecukupan. Dengan kata lain, harapan hidup dan
mutu kehidupan para penderitadown syndrome jauh meningkat beberapa tahun
terakini. Perbaikan kualitas hidup pengidap down sindrom dapat terjadi berkat
perawatan kesehatan, pendekatan pengajaran, serta penanganan yang efektif.
Stimulasi sedini mungkin kepada bayi yang DS, terapi
bicara, olah tubuh, karena otot-ototnya cenderung lemah. Memberikan
rangsangan-rangsangan dengan permainan-permainan layaknya pada anak balita
normal, walaupun respons dan daya tangkap tidak sama, bahkan mungkin sangat
minim karena keterbatasan intelektualnya. Program ini dapat dipakai sebagai
pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkunga yang memeadai bagi anak dengan
syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk
agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti
berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan.
Pada umumnya kelebihannya adalah penurut, periang,
rajin, tepat waktu. Untuk anak yang sudah mendapat pendidikan atau terapi,
mereka sangat menyenangi hal-hal yang rutin. Jadi, mereka lebih disiplin dari anak-anak
biasa sehingga bila sudah diberikan suatu jadwal kegiatan tiap hari, mereka
akan sangat ngotot untuk melakukan jatahnya, walaupun orang tua berusaha untuk
menjelaskan, kadang-kadang malah membuatnya sedih dan ngambek. Ini juga karena
intelektual anak yang kurang sehingga belum mempunyai pengertian yang baik.
Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk
mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih
cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan
adanya leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi,
sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah
infeksi yang adekuat.
2.5 Jenis-jenis
Terapi yang dibutuhkan Penderita Sindrom Down
Pengobatan pada penderita down syndrome ini belum
ditemukan, karena cacatnya yang dibawa dari dalam kandungan. Untuk membantu
mempercepat kemajuan pertumbuhan dan perkembangan anak, penderita ini bisa di
latih dan di didik menjadi manusia mandiri agar bisa melakukan keperluan
pribadinya sendiri sehari-hari seperti berpakaian dan buang air, meskipun
perkembangannya lambat dari anak biasa, hal ini biasanya dilakukan terapi
khusus diantaranya yaitu :
1.
Fisio Terapi
Penanganan
fisioterapi menggunakan tahap perkembangan motorik kasar untuk
mencapai manfaat yang maksimal dan menguntungkan untuk tahap perkembangan yang
berkelanjutan. Tujuan dari fisioterapi disini adalah membantu anak mencapai
perkembangan terpenting secara maksimal bagi sang anak, yang berarti bukan
untuk menyembuhkan penyakit down syndromenya. Dan ini harus dikomunikasikan
sejak dari awal antara fisioterapis dengan pengasuhnya supaya tujuan terapi
tercapai.
Fisioterapi
pada Down Syndrom adalah membantu anak belajar untuk menggerakkan tubuhnya
dengan cara/gerakan yang tepat (appropriate ways). Misalkan saja hypotonia pada
anak dengan Down Syndrome dapat menyebabkan pasien berjalan dengan cara yang
salah yang dapat mengganggu posturnya, hal ini disebut sebagai kompensasi.
Tanpa
fisioterapi sebagian banyak anak dengan Down Syndrome menyesuaikan gerakannya
untuk mengkompensasi otot lemah yang dimilikinya, sehingga selanjutnya akan
timbul nyeri atau salah postur.
Tujuan
fisioterapi adalah untuk mengajarkan pada anak gerakan fisik yang tepat. Untuk
itu diperlukan seorang fisioterapis yang ahli dan berpengetahuan dalam masalah
yang sering terjadi pada anak Down syndrome seperti low muscle tone, loose
joint dan perbedaan yang terjadi pada otot-tulangnya.
Fisioterapi dapat
dilakukan seminggu sekali untuk terapi, tetapi terlebih dahulu fisioterapi
melakukan pemeriksaan dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang dibutuhkan anak
dalam seminggu. Disini peran orangtua sangat diperlukan karena merekalah nanti
yang paling berperan dalam melakukan latihan dirumah selepas diberikannya
terapi. Untuk itu sangat dianjurkan untuk orangtua atau pengasuh mendampingi
anak selama sesi terapi agar mereka mengetahui apa-apa yang harus dilakukan
dirumah.
2.
Terapi Wicara
Suatu terapi
yang di perlukan untuk anak DS yang mengalami keterlambatan bicara dan
pemahaman kosakata. Saat ini sudah banyak sekali jenis-jenis terapi selain di
atas yang bisa dimanfaatkan untuk tumbuh kembang anak DS misalnya Terapi
OkupasiTerapi ini diberikan untuk melatih anak dalam hal kemandirian,
kognitif/pemahaman, kemampuan sensorik dan motoriknya. Kemandirian diberikan
kerena pada dasarnya anak DS tergantung pada orang lain atau bahkan terlalu
acuh sehingga beraktifitas tanpa ada komunikasi dan tidak memperdulikan orang
lain. Terapi ini membantu anak mengembangkan kekuatan dan koordinasi dengan
atau tanpa menggunakan alat.
3.
Terapi Remedial
Terapi ini
diberikan bagi anak yang mengalami gangguan kemampuan akademis dan yang
dijadikan acuan terapi ini adalah bahan-bahan pelajaran dari sekolah biasa
4.
Terapi Sensori Integrasi
Sensori
Integrasi adalah ketidakmampuan mengolah rangsangan / sensori yang diterima.
Terapi ini diberikan bagi anak DS yang mengalami gangguan integrasi sensori
misalnya pengendalian sikap tubuh, motorik kasar, motorik halus dll. Dengan
terapi ini anak diajarkan melakukan aktivitas dengan terarah sehingga kemampuan
otak akan meningkat.
5.
Terapi Tingkah Laku
(Behaviour
Theraphy) Mengajarkan anak DS yang sudah berusia lebih besar agar memahami
tingkah laku yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan norma-norma dan aturan
yang berlaku di masyarakat.
6.
Terapi alternatif
Penaganan
yang dilakukan oleh orangtua tidak hanya penanganan medis tetapi juga dilakukan
penanganan alternatif. hanya saja terapi jenis ini masih belum pasti manfaatnya
secara akurat karena belum banyak penelitian yang membuktikan manfaatnya, meski
tiap pihak mengklaim dapat menyembuhkan DS. Orang tua harus bijaksana
memilih terapi alternatif ini, jangan terjebak dengan janji bahwa DSpada sang
anak akan bisa hilang karena pada kenyataannya tidaklah mungkin DS bisa
hilang. DS akan terus melekat pada sang anak. Yang bisa orang tua lakukan yaitu
mempersempit jarak perbedaan perkembangan antara anak DSdengan anak yang normal.
Terapi alternatif tersebut di antaranya adalah :
- Terapi
Akupuntur.
Terapi ini
dilakukan dengan cara menusuk titik persarafan pada bagian tubuh tertentu
dengan jarum. Titik syaraf yang ditusuk disesuaikan dengan kondisi sang anak.
- Terapi
Musik.
Anak
dikenalkan nada, bunyi-bunyian, dll. Anak-anak sangat senang dengan musik maka
kegiatan ini akan sangat menyenangkan bagi mereka dengan begitu stimulasi dan
daya konsentrasi anak akan meningkat dan mengakibatkan fungsi tubuhnya yang
lain juga membaik.
- Terapi
Lumba-Lumba.
Terapi ini
biasanya dipakai bagi anak Autis tapi hasil yang sangat mengembirakan bagi
mereka bisa dicoba untuk anak down syndrome. Sel-sel saraf otak yang awalnya
tegang akan menjadi relaks ketika mendengar suara lumba-lumba.
- Terapi
Craniosacral.
Terapi
dengan sentuhan tangan dengan tekanan yang ringan pada syaraf pusat. Dengan
terapi ini anak DOWN SYNDROME diperbaiki metabolisme tubuhnya sehingga daya
tahan tubuh lebih meningkat.
Dan tentu
masih banyak lagi terapi-terapi alternatif lainnya, ada yang berupa vitamin,
supplemen maupun dengan pemijatan pada bagian tubuh tertentu. Terapi
sindroma Down hingga saat ini hanya dilakukan terhadap gejala yang telah
muncul. Terapi konvensional semacam itu tidak akan pernah mengatasi penderitaan
pasien sindrom down secara tuntas. Ketidakimbangan gen dan ekspresinya akibat
triplikasi kromosom 21 akan terus berlangsung sepanjang hidup pasien.
Ketidakimbangan tersebut akan menyebabkan kekacauan fungsi produk-produk gen
yang sensitif yang kemudian muncul dalam ujud fenotipik khas sindroma Down.
Jika demikian sudah hilangkah harapan penderita untuk hidup dengan normal
sebagaimana anggota masyarakat lainnya? Jika jawabannya tidak, adakah
alternatif lain terapi untuk sindroma Down? Harapan ditaruh ke teknologi terbaru
yang dikenal dengan terapi gen. Terapi gen merupakan pengobatan atau pencegahan
penyakit melalui transfer bahan genetik ke tubuh pasien. Dengan demikian
melalui terapi gen bukan gejala yang diobati tetapi penyebab munculnya gejala
penyakit tersebut. Studi klinis terapi
gen pertama kali dilakukan pada tahun 1990. Kontroversi terhadap terapi gen
menjadi mengemuka ketika terjadi peristiwa kematian pasien setelah 8 menjalani
terapi gen pada bulan September 1999 di University of Pennsylvania, AS.
Terlepas dari kegagalan tersebut, terapi
gen merupakan sistem terapi baru yang menjanjikan banyak harapan. Beberapa
pelajaran dan kegagalan-kegagalan yang diperoleh selama dekade pertama serta
pesatnya perkembangan bidang tersebut saat ini membuka kemungkinan teknologi tersebut
akan merevolusi dunia kedokteran di dekade mendatang. Seluruh uji klinis
transfer gen hanya dilakukan terhadap sel-sel somatik bukan ke sperma atau ovum
yang jika dilakukan pasti akan menimbulkan kecaman dan pelanggaran etika yang
dianut saat ini. Transfer gen ke sel somatik dapat dilakukan melalui dua metode
yaitu ex vivo atau in vitro. Melalui pendekatan ex vivo,
sel diambil dari tubuh pasien, direkayasa secara genetik dan dimasukkan kembali
ke tubuh pasien. Keunggulan metode ini adalah transfer gen menjadi lebih
efisien dan sel terekayasa mampu membelah dengan baik dan menghasilkan produk
sasaran. Kelemahannya, yaitu memunculkan immunogenisitas sel pada pasien-pasien
yang peka, biaya lebih mahal dan sel terekayasa sulit dikontrol.
Seluruh uji klinis terapi gen saat ini
menggunakan teknik in vivo, yaitu transfer langsung gen target ke tubuh
pasien dengan menggunakan pengemban (vektor). Pengemban yang paling sering
dipakai untuk mengantarkan gen asing ke tubuh pasien adalah Adenovirus.
Selain itu dikembangkan juga pengembanpengemban lain yaitu Retrovirus,
Lentivirus, Adeno associated virus, DNA telanjang (naked DNA),
lipida kationik dan partikel DNA terkondensasi. Uji-uji klinis terapi gen yang
saat ini sedang berjalan dilakukan terhadap penderita kanker, penyakit
monogenik turunan, penyakit infeksi, penyakit kardiovaskular, arthritis
reumatoid, serta Cubital Tunnel Syndrome.
Apakah Down sindrom dapat diobati
melalui terapi gen? Penulis optimis pada beberapa tahun mendatang terapi gen
dapat dilakukan juga terhadap penderita Down sindroma, paling tidak pada
tahapan uji klinis. Sebagaimana telah diuraikan di depan, sindroma Down
disebabkan ketidakimbangan gen akibat kesalahan penggandaan pada kromosom 21.
Kajian sangat intensif saat ini sedang dikerjakan di banyak lembaga riset
terkemuka di dunia. Dalam beberapa tahun 9 mendatang diharapkan dasar molekuler
Down sindroma akan tersingkap. Dengan tersingkapnya hal itu maka pendekatan
terapi gen untuk mengatasi penyakit tersebut dapat dikembangkan, misalnya
dengan mengubah gen-gen yang ekspresinya menyebabkan kerusakan, atau membuat
gen-gen tertentu lebih resisten terhadap ketidakimbangan gen yang terdapat
dalam sel.
Dengan berhasil dipetakannya kromosom 21
maka harapan kesana semakin terbuka lebar. Semoga saja impian tersebut dapat
segera terwujud yang akan menjadi hadiah terbesar bagi penderita Down sindroma
dan keluarga terkait. Sungguh kita berharap itu semua akan terjadi.
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sindrom
down
adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang
diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk
akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi
pembelahan. Gejala yang dialami oleh kelainan syndrome down, antara lain bentuk kepala microchephaly, lidah
macroglossia, mata epichantal fold, kulit dermatoglyphics
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa
pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain pemeriksaan
fisik penderita, pemeriksaan kromosom, ultrasonografi (USG), ekokardiogram
(ECG), pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling) dan Perhatian lebih pada saat proses kehamilan. Down Syndrome tidak bisa
dicegah, karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah
kromosom.
Namun Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan
pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi
para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bhatt S, Schreck R, Graham JM,
Korenberg JR, Hurvitz CG, Fischel-Ghodsian N. Transient leukemia with
trisomy 21: description of a case and review of the literature. Am J Med Genet. Sep 25 1995;58(4):310-4.
Borgaonkar DS, Davis M, Bolling DR,
Herr HM. Evaluation of dermal patterns in Down’s syndrome by predictive
discrimination. I. Preliminary analysis based on frequencies of patterns. Johns Hopkins Med J. Mar 1971;128(3):141-52.
Cheon MS, Shim KS, Kim SH, Hara A,
Lubec G. Protein levels of genes encoded on chromosome 21 in fetal Down
syndrome brain: Challenging the gene dosage effect hypothesis (Part IV). Amino Acids. Jul 2003;25(1):41-7.
Clarke RW. Ear, nose and throat
problems in children with Down syndrome. Ear, Nose and Throat Department, Royal
Liverpool Childrens Hospital, Liverpool L12 2AP. Br J Hosp Med (Lond). 2005
Sep;66(9):504-6.
COGHLAN MK, EVANS PR. INFANTILE
ECZEMA, ASTHMA AND HAY FEVER IN MONGOLISM. Guys Hosp Rep. 1964;113:223-30.
No abstract available.
Desmons F, Bar J, Brandt A. Les
signes cutanes du mongolisme (trisomie 21). Bull Soc fr Dermatol et
Syphiligr. 1973;80:233-7.
Dourmishev A, Miteva L, Mitev V,
Pramatarov K, Schwartz RA. Cutaneous aspects of Down syndrome. Cutis. Dec 2000;66(6):420-4.
Ercis M, Balci S, Atakan
N. Dermatological manifestations of 71 Down syndrome children admitted to
a clinical genetics unit. Clin Genet. Nov 1996;50(5):317-20.
Johnson N, Fahey C, Chicoine B,
Chong G, Gitelman D. Effects of donepezil on cognitive functioning in Down
syndrome. Am J Ment Retard. Nov 2003;108(6):367-72.
Lejeune J, Gautier M, Turpin
R. [Study of somatic chromosomes from 9 mongoloid children.] Article in
French. C R Hebd Seances Acad Sci. Mar
16 1959;248(11):1721-2.
Lerner LH, Wiss K, Gellis S,
Barnhill R. An unusual pustular eruption in an infant with Down syndrome
and a congenital leukemoid reaction. J Am Acad Dermatol. Aug 1996;35(2
Pt 2):330-3. [Medline].
Liyanage S, Barnes J. The eye
and Down’s syndrome. Br J Hosp Med (Lond). 2008;69(11):632-4.
Masjkey D, Bhattacharya S, Dhungel
S, et al. Utility of phenotypic dermal indices in the detection of Down
syndrome patients. Nepal Med Coll J. Dec 2007;9(4):217-21.
Miller
JR. Dermatoglyphics. J Invest Dermatol. Jun 1973;60(6):435-42. [Medline].
Own JL. Observations on an
ethnic classification of idiots. 1866. Ment Retard. Feb 1995;33
(1) : 54-6.
Reeves RH, Baxter LL, Richtsmeier
JT. Too much of a good thing: mechanisms of gene action in Down
syndrome. Trends Genet. Feb 2001;17(2):83-8.
Reed TE, Borgaonkar DS, Conneally
PM, Yu P, Nance WE, Christian JC. Dermatoglyphic nomogram for the
diagnosis of Down’s syndrome. J Pediatr. Dec 1970;77(6):1024-32.
Rex AP, Preus M. A diagnostic
index for Down syndrome. J Pediatr. Jun 1982;100(6):903-6.
Roizen NJ. Down syndrome:
progress in research. Ment Retard Dev Disabil Res Rev. 2001;7(1):38-44.
Scherbenske JM, Benson PM, Rotchford
JP, James WD. Cutaneous and ocular manifestations of Down syndrome. J Am Acad Dermatol. May 1990;22(5 Pt
2):933-8.
Satge D, Sommelet D, Geneix A, Nishi
M, Malet P, Vekemans M. A tumor profile in Down syndrome. Am J Med Genet. Jul
7 1998;78(3):207-16.
Scott JA, Wenger SL, Steele MW,
Chakravarti A. Down syndrome consequent to a cryptic maternal 12p;21q
chromosome translocation. Am J Med Genet. Mar
13 1995;56(1):67-71.
Soares SR, Templado C, Blanco J,
Egozcue J, Vidal F. Numerical chromosome abnormalities in the spermatozoa
of the fathers of children with trisomy 21 of paternal origin: generalised
tendency to meiotic non-disjunction. Hum Genet. Feb 2001;108(2):134-9.
Thomas L, Augey F, Chamchikh N,
Barrut D, Moulin G. [Cutaneous signs of trisomy 21]. Ann Dermatol Venereol. 1994;121(4):346-50.
Wilms A, Dummer R. [Elastosis
perforans serpiginosa in Down syndrome]. Hautarzt. Dec 1997;48(12):923-5.
Viner RM, Shimura N, Brown BD, Green
AJ, Hughes IA. Down syndrome in association with features of the androgen
insensitivity syndrome. J Med Genet. Jul 1996;33(7):574-7.
Vintzileos AM, Egan
JF. Adjusting the risk for trisomy 21 on the basis of second-trimester
ultrasonography. Am J Obstet Gynecol. Mar 1995;172(3):837-44.

Komentar
Posting Komentar